Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian menggelar webinar dengan tema Mengenal Prosedur dan Kepabean Ekspor, (24/6). Dalam sambutannya, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ir. Fini Murfiani, M.Si mengatakan bahwa tujuan webinar ini untuk memberikan pengetahuan dasar sebagai eksportir atau calon eksportir agar tidak menemui kendala saat melakukan kontrak jual beli dengan buyer, pengurusan dokumen ekspor hingga saat pengiriman barang.

Sementara itu, webinar ini selaras dengan program Kementerian Pertanian yaitu Gratieks (Gerakan tiga kali ekspor) salah satunya langkah operasionalnya adalah  mendorong pertumbuhan eksportir baru untuk menyiapkan unit usaha dan memberikan pembekalan kepada pelaku usaha agar siap ekspor. “Realisasi ekspor komoditas peternakan Tahun 2020 sampai dengan bulan Mei (angka sementara) mencapai nilai Rp.4,91 T dengan total volume 121.399 Ton”. Kebijakan lain dalam meningkatkan ekspor adalah menetapkan sebanyak 482 jenis komoditas dan produk turunannya binaan bidang peternakan sesuai dengan Kepmentan 104 tahun 2020 dan Kepmentan 4918 Tahun 2020.

Pada kesempatan ini, Hesty Dharmanita Wianggawati sebagai Fasilitator Ekspor selain menjelaskan bahwa kebijakan ekspor suatu negara  berlatar belakang pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri (konsumsi maupun bahan baku industri dalam negeri), perlindungan dan kelestarian sumber daya alam, peningkatan nilai tambah, stabilitas harga di dalam negeri, keamanan, kesehatan, keselamatan manusia dan lingkungan hidup, serta adanya kepentingan ekonomi, sosial, budaya dan moral bangsa dan Kesepakatan Internasional (WTO).

Pengenalan terhadap beberapa dokumen ekspor yang harus dimengerti sejak awal oleh pelaku usaha ekspor atau calon eksportir agar tidak menemui kendala dalam proses ekspor, antara lain seperti  legalitas perusahaan, kontrak penjualan, faktur perdagangan, packing list, pemberitahuan ekspor barang (PEB), bill of lading, letter of credit, surat keterangan asal (COO), serta dokumen lain yang dipersyaratkan oleh Undang-undang yang berlaku sesuai jenis barang.

Salah satu informasi penting bagi eksportir dari penyampaian materi Hesty mengenai pemanfaatan preferensi tariff dalam perdagangan internasional dengan menggunakan Surat Keterangan Asal (SKA) atau Certificate of Origin (COO). Dengan adanya perjanjian perdagangan yang dilakukan oleh Indonesia baik secara bilateral maupun regional, hal ini dapat memberikan manfaat bagi eksportir dalam menawarkan barang kepada calon buyer, fasilitasi preferensi tariff dapat dijadikan daya saing produk Indonesia. Dijelaskan oleh Hesty dengan membuat dokumen SKA, jika dengan mengikuti skema preferensi tariff perdagangan tertentu dapat memberikan keuntungan pengurangan besaran tariff bea masuk di Negara tujuan ekspor dibandingkan dengan negara competitor yang tidak memiliki perjanjian perdagangan. Sebagai studi kasus untuk produk telur asin dengan kode HS 0407.9090 bahwa untuk tariff bea masuk MFN di korea selatan untuk telur asin sebesar 27,5% namun jika menggunakan preferensi tariff skema perjanjian Asean Korea, maka akan Importir di Korea akan mendapat pengurangan menjadi 5%

Sementara itu, Arya Mabruri sebagai Fasilitator Ekspor sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 72 Tahun 2019 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Perdagangan No. 29 Tahun 2019 tentang ketentuan ekspor dan impor hewan dan produk hewan  menjelaskan beberapa kriteria barang ekspor yaitu adalah barang bebas, barang dibatasi dan barang dilarang. Untuk kriteria barang bebas komoditas peternakan seperti Hatching Egg dan Telur Asin merupakan barang ekspor yang dalam proses ekspornya tidak perlu memerlukan izin khusus dari otoritas perdagangan, sementara untuk jenis yang dibatasi merupakan produk yang hanya dapat diekspor dengan persetujuan ekspor dari Kementerian Perdagangan contohnya Domba dan Kambing hidup, sedangkan untuk barang yang dilarang meliputi barang yang sama sekali tidak boleh diekspor seperti barang kuno dan hewan yang dilindungi seperti ikan arwana

Sementara itu, sempat hadir perwakilan Diaspora dari USA yaitu Bapak Rahmat Poetranto mengatakan bahwa melalui webinar ini dirasakan sangat bermanfaat dan para pelaku  usaha untuk dapat belajar banyak mengenai prosedur ekspor, Rahmat juga menyampaikan keinginan untuk dapat lebih bekerjasama dengan pelaku usaha di Indonesia dan siap membantu untuk dapat menjual produk Indonesia di USA.

Dalam arahan penutup, Fini Murfiani, menyampaikan bahwa Indonesia sebagai negara berdaulat harus dapat berperan dalam perdagangan dunia. Webinar ini merupakan langkah kecil di tengah situasi global dunia saat ini untuk lebih memperkuat langkah Indonesia dalam melakukan peningkatan ekspor, khususnya bagi para pelaku usaha ekspor komoditas peternakan dan kesehatan Hewan, Pungkas Fini.

 

Narahubung :

Ir. Fini Murfiani, MSi

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan

Share:

Leave a Reply