Haji Uceng Peternak Ayam Broiler: Bermitra Pintar, Keuntungan Besar

Karawang – H. Uceng Awaludin, peternak ayam pedaging yang telah beternak selama 7 (tujuh) tahun sukses melakukan kemitraan dengan salah satu perusahaan, yakni PT. Charoen Pokphand. Ia mengaku dari hasil beternak ayam tersebut kebutuhan keluarganya telah terpenuhi, terutama pendidikan anak, sehingga ia mampu membiayai anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang tinggi.
Menurut Uceng, budidaya ayam broiler dengan sistem kemitraan ini lebih menguntungkan daripada usaha budidaya secara mandiri karena sistem pemasaran lebih terjamin dengan harga kontrak, pemeliharaan dan budidaya menjadi lebih mudah dengan pendampingan oleh ahli yang dikirim pihak perusahaan, serta ada juga pendampingan dari PPL Dinas. Sementara itu, kalau melakukannya secara mandiri tentu saja pemasaran sangat bergantung pada banyaknya relasi yang dimiliki di pasar dan harga diatur oleh broker. Hal ini disampaikan Uceng saat dikunjungi di kawasan kandangnya (22/6).
Lebih lanjut, ia mengungkapkan dalam melaksanakan usaha ternak ayam ini terkadang terjadi hal-hal yang tidak terduga yang menyebabkan kematian ternak ayam, seperti wabah penyakit, angin kencang, kebakaran, dan hal lain yang termasuk dalam kategori force major. “Nah sebaiknya kerugian tersebut jangan menjadi utang atau tanggungan bagi peternak, kecuali jika ada kelalaian dalam manajemen pemeliharaan ayam oleh peternak. Saya telah secara khusus meminta hal tersebut dalam kontrak kemitraan, yang penting ada kejujuran dalam mengelola pemeliharaan ayam,” tutur Uceng.
Lokasi kandang yang dimiliki oleh bapak dengan 8 anak ini terletak di Kampung Parakan Badak, Kecamatan Tegal Waru, Kabupaten Karawang. Ia miliki 6 kandang konvensional (open) dengan rata-rata kapasitas  7.000 sehingga setiap siklus produksi dipelihara DOC sekitar 35.000 – 40.000 ekor. Uceng mengungkapkan selama ia melakukan kemitraan dalam mengelola usaha peternakannya, ia tidak pernah rugi fatal karena jaminan harga sudah ada dan pasti. Saat ini, kontrak harga ayam hidup sebesar Rp18.200,00 per kg untuk ayam berat 1,8-2 kg dan Rp19.000,00 per kg untuk ayam berat sekitar 1,4 kg.
Lanjut Uceng, dengan sistem kemitraan yang dijalankan pada usahanya ini, keuntungan bersih yang ia dapatkan mencapai sedikitnya 25 juta per bulan atau 300 juta per tahun. Dalam melaksanakan usahanya, ia dibantu oleh anak kandang 10 orang dan 1 orang mandor, ungkapnya.
“Saya tidak usah pusing mikir untuk pemasaran karena manajemen kemitraan lebih ahli dan kegiatan kami fokus dalam memelihara ayam lebih baik sehingga dalam beternak menjadi lebih tenang dan menyenangkan,” ungkapnya. “Walaupun masih ada satu harapan saya untuk perbaikan pihak PT agar pembayaran ayam dipercepat. Selama ini dibayar paling cepat 20 hari setelah ayam dipanen. Katanya yang panen kali ini akan dibayar setelah lima hari, semoga betul,” lanjutnya.
Uceng juga menjelaskan apabila peternak seperti dirinya tidak melakukan kemitraan, yakni jika peternak berdiri sendiri-sendiri, mengatur semuanya sendiri, tentu akan mudah patah seperti halnya sebatang lidi yang bekerja sendiri serta semua keuntungan yang ia dapatkan saat ini sulit dicapai. Oleh karena itu, dirinya ingin berbagi kisahnya kepada masyarakat khususnya peternak untuk selalu semangat dalam beternak ayam, khususnya menjalankan usaha ternak ayam dengan sistem kemitraan. “Kalau sistem kemitraan dibangun dengan matang, dijalankan dengan benar, semuanya pasti untung,” tutupnya.
Share:

Leave a Reply