“Tanpa penggunaan AGP (hormon pertumbuhan) pertumbuhan ayam ras pedaging diketahui masih perform, hal ini dapat diketahui dengan perolehan Indeks Performa (IP) ayam ras pedaging pada Tahun 2018 di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah rata-rata 337. Perolehan IP tersebut termasuk kategori baik melebihi IP standar yaitu ≥300. Hal ini mengindikasikan suatu farm komersial ayam ras pedaging telah menerapkan sistem tata laksana yang baik dan dinilai efisien”.

Usaha ayam ras pedaging dievaluasi dengan mengukur kinerja performa produksi. Pengukuran kinerja produksi menggunakan parameter ukuran Indeks Performa (IP). Pengukuran IP dilakukan dengan menganalisis variabel-variabel produksi seperti : 1) Jumlah ayam pada saat chick in; 2) Deplesi; 3) FCR; 4) Berat panen dan 5) Umur panen.

Usaha ayam ras pedaging dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu penyediaan bibit unggul, pemenuhan kebutuhan pakan dan manajemen pemeliharaan yang baik. Menurut pendapat ahli unggas, Anggitasari dkk (2016) menyebut bahwa ketiga faktor produksi usaha merupakan satu kesatuan sistem jika salah satu faktor terabaikan maka penanganan terhadap faktor lainnya tidak dapat memberikan hasil maksimal.

 

Persentase Deplesi

Deplesi populasi artinya penyusutan jumlah ayam baik karena kematian maupun karena afkir (culling). Kematian terjadi karena sakit atau kondisi lingkungan yang tidak bersahabat. Sementara pengafkiran diputuskan karena pertimbangan resiko ekonomi dan gangguan pertumbuhan.

Deplesi populasi bisa berasal dari dua hal yaitu kematian dan afkir ayam. Rumus menghitung tingkat deplesi (D) ialah sebagai berikut :

D       =  Jumlah ayam mati + afkir x 100% : Populasi awal

atau bisa juga,

D       =   Populasi awal – jumlah ayam panen x 100% : Populasi awal.

Kematian ayam merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari karena sakit atau faktor-faktor lain. Pada umumnya pembibit menetapkan batas maksimal kematian yang dapat ditoleransi adalah <6%, semakin banyak ayam yang mati maka semakin besar kerugian peternak.

Persentase deplesi ayam di lokasi farm pengamatan 5% dinilai sama dengan deplesi standar atau sesuai target maksimal deplesi yaitu <6%. Hal ini disebabkan optimalnya tata laksana pemeliharaan, pengobatan, vaksinasi dan juga pakan yang berujung pada rendahnya persentase deplesi.

 

Perolehan Berat Panen

Penimbangan berat badan dilakukan oleh peternak secara rutin tiap minggu dan saat panen. Penimbangan rutin tiap minggu dimaksudkan untuk kontrol berat badan. Teknik kontrol berat badan biasa dilakukan oleh peternak dengan mengambil sampel 50-100 ekor tiap PEN secara merata. Kontrol berat badan merupakan metode penimbangan individu yang berarti seekor ayam ditimbang berat badannya. Penimbangan saat panen menggunakan metode penimbangan massal karena jumlah populasi yang harus ditimbang banyak. Faktor efisiensi waktu dan tingkat stres ayam menjadi hal yang penting. Secara teknis, penimbangan ayam dapat berbeda misalnya ayam ditimbang sekaligus keranjangnya atau mengikat ayamnya dahulu baru digantung untuk ditimbang.

Hasil penimbangan rata-rata berat ayam pada periode fase pemeliharaan growing dan finishing sebagai kontrol dapat dibandingkan dengan data dari standar pembibit. Idealnya bobot badan rata-rata di kandang lebih besar atau sama dengan standar. Jika bobot badan rata-rata lebih kecil dari standar maka secara teknis peternak direkomendasikan untuk melakukan beberapa perbaikan tata laksana pemberian pakan dan pengaturan kepadatan kandang. Berikut ini disajikan grafik proporsi rata-rata perolehan berat panen ayam ras pedaging dari 7 periode usaha.

Hasil pengamatan di Jawa Barat, peternak cenderung panen ayam pada berat 1,6-1,7 kg (32%), sementara peternak di Jawa Tengah cenderung melakukan panen pada berat 1,8-1,9 kg.  Berat panen 1,6 kg yang dilakukan di sebagian besar wilayah di Jawa Barat mengikuti preferensi konsumen rumah makan, hotel dan katering yang ada di wilayah Jabodetabek dan Bandung. Diketahui banyak wilayah di Jawa Barat memberikan kontribusi besar memasok ayam ras pedaging ke wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

 

Konversi Pakan

Konversi pakan dihitung dengan Feed Convertion Ratio (FCR) adalah jumlah berat pakan yang diberikan untuk menghasilkan satu kilogram berat hidup ayam ras pedaging. Semakin kecil nilai FCR semakin baik hasilnya, mengindikasikan bahwa penyerapan nutrisi lebih baik dan konversi pakan menjadi daging lebih optimal. Menurut pakar Lesson dan Summer (2000) menyebutkan bahwa pemeliharaan ayam ras pedaging masih dikatakan efisien jika nilai konversi pakan masih di bawah angka 2 (dua).

Rumus menghitung FCR adalah :

FCR didefinisikan berapa jumlah kilogram pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram berat badan. Idealnya satu kilogram pakan dapat menghasilkan berat badan 1 kg atau bahkan lebih (FCR ≤ 1). Kenyataannya kondisi tersebut tidak selalu terjadi. Pada ayam ras pedaging oleh banyak pembibit menetapkan target FCR = 1 maksimal dapat dicapai sebelum ayam berumur 2 minggu (FCR dua minggu ± 1,047-1,071). Setelahnya, FCR akan naik sesuai umur dan pertumbuhan ayam.

Tabel 1. Rataan Capaian FCR Usaha Ayam Ras Pedaging Tahun 2018

Sumber : Data primer terolah, 2018.

Berdasarkan tabel di atas diketahui rata-rata FCR aktual yang dicapai adalah 1,5 dari 20 peternak selama pengamatan 6-7 periode usaha. Jika dibandingkan dengan FCR standar pembibit untuk strain Ross 1,5 maka perolehan FCR tersebut sesuai FCR standar pembibit.  Hal ini berarti nilai FCR aktual sama dibandingkan FCR standar, mengindikasikan terjadinya efisiensi tinggi terhadap penggunaan pakan yang didukung dengan tata laksana pemeliharaan yang baik. Namun sebaliknya ada beberapa peternak pada beberapa periode nilai FCR aktualnya melebihi standar, yaitu mencapai 1,8.

Jika nilai FCR lebih besar dibandingkan standar maka mengindikasikan terjadi pemborosan pakan sebagai akibat tidak maksimalnya manfaat pakan terhadap pertambahan berat badan ayam. Salah satu faktor yang berperan penting menyebabkan hal ini adalah cekaman stress pada ayam. Stress direspon oleh tubuh dengan memobilisasi glukosa untuk diubah menjadi energi dan digunakan untuk menekan stress itu sendiri. Sebagai akibatnya, hanya sedikit energi yang diarahkan ke pertambahan bobot badan. Berikut ini dapat diamati pada diagram perolehan FCR dari beberapa lokasi farm.

 

Rata-Rata Umur Ayam Saat Panen (UP)

Umur panen rata-rata ayam ras pedaging dipengaruhi oleh permintaan pasar dan pelanggan, pemanenan dilakukan beberapa kali tergantung pelanggan membutuhkan umur ayam yang berbeda. Umur panen ayam juga sangat tergantung dari perolehan berat ayam. Parameter ini menghitung rata-rata umur ayam yang dipanen. Pemanenan dalam parameter ini adalah pemanenan ayam sehat pada bobot badan tertentu. Jadi, ayam afkir tidak termasuk ke dalam perhitungan.

Rumus menghitung UP ialah :

UP            =           ∑(U x P)

                       total populasi terpanen

Keterangan :

U : umur ayam dipelihara

P : populasi ayam yang dipanen.

Peternak di wilayah Jawa Tengah cenderung memanen ayam pada umur lebih dari 35 hari, hal ini berkaitan dengan perolehan preferensi konsumen terhadap berat ayam hidup lebih dari 1,9 kg. Sementara peternak di Jawa Barat melakukan panen ayam pada umur kurang dari 33 hari untuk memperoleh berat rata-rata 1,6 kg.

 

Indeks Performa (IP)

Indikator suksesnya usaha ayam ras pedaging diketahui dengan menganalisis kinerja produksi menggunakan parameter nilai IP. Indeks Performa (IP) merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan pemeliharaan ayam ras pedaging pada setiap periode. Peternak sebagai pelaku usaha harus mencapai IP optimal sehingga usahanya dapat efisien. Perolehan nilai IP dapat dibandingkan dengan IP standar, berdasarkan literasi Medion nilai IP dinyatakan stabil berada pada kisaran 300-350. Nilai IP dibawah 300 dikategorikan kinerja produksinya kurang baik, sementara jika IP di atas 350 masuk kategori sangat baik.

Faktor IP digunakan sebagai acuan karena selain mempertimbangkan bobot badan, konversi pakan, deplesi dan lama pemeliharaan cukup lengkap untuk menilai (Sjofjan, 2008). Fadilah (2007) menilai semakin besar nilai IP yang diperoleh, semakin baik prestasi pemeliharaan ayam dan semakin efisien penggunaan pakan. Nilai IP dihitung berdasarkan bobot panen, konversi pakan (FCR), umur panen, dan jumlah presentase ayam yang hidup selama pemeliharaan (Daya Hidup/DH).

Berikut rumus Indeks Performa (IP) :

Keterangan  :

IP       : Indeks Performa

D        : Persentase deplesi (%)

BW     : Body Weight (bobot badan) rata-rata saat panen (kg)

FCR    : Feed conversion ratio

UP      : Umur rata-rata panen (hari).

Standar IP yang diterapkan oleh sejumlah perusahaan peternakan ayam ras pedaging umumnya adalah di atas 300, dinyatakan kategori baik. Oleh karena itu, semakin tinggi nilai IP maka semakin berhasil usaha ayam ras pedaging tersebut.

Tabel 2. Hasil Perhitungan Komponen nilai IP Usaha Ayam Ras Pedaging Tahun 2018

Sumber : Data primer terolah, 2018.

Berdasarkan tabel 2 di atas diketahui perolehan nilai IP rata-rata dari 20 orang peternak adalah 337 sehingga dapat dikategorikan performa produksinya baik.  Jika dirata-rata populasi ayam pada waktu chick in sebanyak 34.680 ekor, deplesi 5%, FCR aktual yang dicapai 1,5 dengan capaian berat panen 1,7 kg dan dipanen pada umur 33 hari.

Rofii, S.Pt

Statistisi di Direktorat PPHNak

 

Share:

Leave a Reply