Kemajuan teknologi informasi telah memberikan peluang yang besar bagi pelaku usaha kecil, mikro dan menengah bidang peternakan untuk pengembangan akses dan jaringan pemasaran yang lebih efisien dan dapat diakses oleh siapapun berbasis digital. Peluang ini harus dimanfaatkan oleh seluruh pelaku usaha peternakan, disamping itu perbaikan kualitas produk dan pelayanan tentu menjadi hal utama dalam persaingan pasar on-line tersebut.

Pertumbuhan e-commerce di Indonesia cukup tinggi, berdasarkan data Kementerian Kominfo pada tahun 2019 pertumbuhan mencapai 59% dan masuk dalam 10 besar negara pertumbuhan tinggi didunia. Pemakaian internet di Indonesia mencapai 82 juta orang peringkat 8 di dunia dan 80% diantaranya usia 15-19 tahun atau remaja/ millenial. Tercatat transaksi e-commerce menurut Bank Indonesia mencapai Rp 11-13 triliun pada tahun 2019.

Dalam masa wabah pandemi covid19, terdapat indikasi belanja secara online meningkat sampai 3 kali lipat, terutama untuk kebutuhan bahan pangan termasuk hasil peternakan berupa daging, telur, susu dan produk olahannya.

“Memperhatikan begitu besarnya potensi pasar digital untuk domestik dan ekspor, serta memberikan kemudahan akses bagi konsumen maka Kementerian pertanian, Ditjen PKH mendorong para pelaku usaha untuk mengoptimalkan potensi tersebut untuk memasarkan produknya”, ujar I Ketut.

“Oleh karena itu Ditjen PKH sudah melakukan MoU dengan startup digital dan perusahaan e-commerce dalam upaya pengembangan pemasaran hasil peternakan berbasis digital diantaranya dengan Grab, Tani Supply, Tokopedia, etanee dan sayurbox pada 14 April 2020”, imbuh I Ketut.

Fini Murfiani Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan menyampaikan, bahwa sebagai tindak lanjut dari MoU tersebut Ditjen PKH melalui Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan menggelar Rapat koordinasi Pengembangan Pemasaran Hasil Peternakan dengan PT. Tani Hub Indonesia pada Kamis, 25 Juni 2020.

Fini Murfiani juga menambahkan para pelaku usaha yang hadir dalam pertemuan koordinasi ini terlihat antusias untuk bekerjasama dengan TaniHub, diantaranya Peternak Puyuh di Sukabumi, Peternak Kambing Perah di Yogyakarta, Juragan Ayam serta Eksportir Telur Asin.

PT. Tani Hub Indonesia adalah sebuah startup Agritech yang didesain sebagai ekosistem terintegrasi untuk pertanian. PT. Tani Hub Indonesia membawahi tiga unit bisnis, diantaranya TaniHub sebagai Platform awal mereka di bidang Marketplace, platform Fintech TaniFund melalui Layanan pembiayaan dg peer-to-peer lending bidang pertanian dan TaniSupply yang khusus nenangani rantai pasok Pertanian dan peternakan.

Salah satu Isu yg mengemuka pada pertenuan tersebut adalah aspek pembiayaan. Abednego, Head of Trade Procurement TaniHub menyampaikan bahwa untuk menjamin kelancaran pemasaran produk dan usaha pertanian/peternakan PT. Tani Hub Indonesia menyediakan Layanan pembiayaan Investasi dan Pengenbangan Usaha kepada petani/peternak melalui platform TaniFund, pembiayaan ini diberikan kepada petani/peternak yang sudah melakukan pemasaran sebagai mitra di TaniHub dan ingin meningkatkan skala usahanya. Selanjutnya akan menjalani visiability study. Platform Pendanaan mencapai Rp. 5 M. Potensi pendanaan Tanifund masih perlu ditingkatkan, karena saat ini baru 1500 petani dan peternak yang mengakses layanan ini.

Abednego juga menjelaskan bahwa hingga saat ini, setiap TaniHub melaksanakan pembelian kepada petani/peternak selanjutnya 1TaniHub melakukan, grading,, Packaging sampai ke Pemasaran. Untuk mekanisme pembayarannya kepada mitra umunnya disepakati bersama dengan rata-rata 7-14 hari kerja.

“Sejauh ini terdapat 200.000 user yang terdaftar di TaniHub dan terus bertambah setiap waktunya serta telah menyerap lebih dari 3.000 ton produk peternakan yakni Unggas dan Telur”, tutup Abednego.

Share:

Leave a Reply